Konfigurasi LACP (Link Aggregation) pada MikroTik RouterOS 7.x

Overview

Di dunia jaringan modern, kebutuhan akan bandwidth yang lebih tinggi dan toleransi kegagalan menuntut solusi yang lebih cerdas dibanding sekadar menambah satu kabel Ethernet. Link Aggregation Control Protocol (LACP) adalah standar IEEE 802.3ad yang memungkinkan beberapa interface fisik digabungkan menjadi satu logical interface. Dengan LACP, trafik dapat didistribusikan secara merata (load‑balancing) dan bila salah satu link gagal, trafik otomatis beralih ke link yang masih aktif tanpa mengganggu layanan. MikroTik RouterOS 7.x menyediakan dukungan penuh untuk LACP baik lewat CLI maupun WinBox, tetapi banyak administrator masih belum familiar dengan detail implementasinya. Artikel ini membahas mulai dari konsep dasar hingga langkah‑langkah konfigurasi LACP pada RouterOS 7.x, serta tips verifikasi, troubleshooting, dan best practice.

Prerequisites

  • Perangkat MikroTik yang menjalankan RouterOS 7.10 atau versi lebih baru.
  • Minimal dua port Ethernet pada tiap perangkat yang akan di‑aggregate.
  • Koneksi jaringan yang mendukung LACP pada sisi switch (misalnya Cisco Catalyst, Juniper EX series, atau switch MikroTik dengan fitur bridge).
  • Akses admin ke MikroTik via WinBox atau SSH.
  • Pengetahuan dasar tentang bridge, interface, dan konsep VLAN (jika Anda berencana men‑stack VLAN di atas LACP).

Environment

Kita akan mencontohkan skenario dua router MikroTik (Router‑A dan Router‑B) yang terhubung ke sebuah switch L2 yang mengaktifkan LACP pada port 1 dan 2. Kedua router akan meng‑aggregate kedua port Ethernet menjadi satu interface bond1. Di sisi lain, router tetap terhubung ke jaringan LAN melalui port ether3 yang di‑bridge ke bond1. Diagram singkat:

Router-A                 Switch L2                 Router-B
+-----------+          +-----------+           +-----------+
| ether1----|----------|           |-----------| ether1    |
| ether2----|----------|   LACP    |-----------| ether2    |
| ether3----|----------|           |-----------| ether3    |
+-----------+          +-----------+           +-----------+

Pengaturan ini menyiapkan redundant uplink sekaligus meningkatkan total bandwidth antara router dan core network.

Konsep Singkat

LACP bekerja dengan cara mengirimkan Paket Control (LACPDU) secara periodik di setiap interface yang dikonfigurasi sebagai member. Switch atau perangkat lain yang mendukung LACP akan menanggapi dengan LACPDU miliknya, sehingga kedua ujung dapat menegosiasikan sebuah aggregation group. Tanpa LACP (mode static), perangkat hanya menganggap semua port sebagai satu bundle tanpa pengecekan, sehingga risiko loop atau traffic storms lebih tinggi. LACP memberikan tiga mode:

  • active – Mengirimkan LACPDU secara aktif dan menerima dari lawan.
  • passive – Hanya merespon LACPDU yang diterima.
  • on – Mode static, tidak mengirimkan LACPDU (tidak direkomendasikan untuk produksi).

Untuk implementasi standar, gunakan active pada kedua sisi.

Langkah Konfigurasi

Step 1 – Persiapan Interface

Pastikan interface yang akan di‑aggregate tidak memiliki konfigurasi IP atau bridge yang masih aktif. Jika sudah, bersihkan terlebih dahulu.

# Pada Router‑A (CLI)
/interface ethernet set ether1 disabled=no
/interface ethernet set ether2 disabled=no
/interface ethernet set ether1 comment="LACP Member 1"
/interface ethernet set ether2 comment="LACP Member 2"
# Hapus IP jika sudah ada
/ip address remove [find interface=ether1]
/ip address remove [find interface=ether2]

Command yang sama dijalankan di Router‑B.

Step 2 – Membuat Bond Interface

Gunakan tipe bonding dengan mode 802.3ad (LACP). Pada RouterOS 7.x, parameternya disebut mode=802.3ad.

# Membuat bond1 pada Router‑A
/interface bonding add name=bond1 mode=802.3ad 
    slaves=ether1,ether2 LACP-rate=fast 
    transmit-hash-policy=layer2+3

# Pastikan bond1 tidak otomatis mendapatkan IP (kita akan men‑assign nanti)
/ip address remove [find interface=bond1]

Parameter penting:

  • LACP-rate=fast – Mengirim LACPDU tiap 1 detik (default 30 detik).
  • transmit-hash-policy=layer2+3 – Membagi traffic berdasarkan kombinasi MAC dan IP, cocok untuk kebanyakan jaringan.

Lakukan langkah yang sama pada Router‑B.

Step 3 – Menambahkan Bond ke Bridge (Opsional)

Jika Anda ingin trafik LAN melewati bond, masukkan bond ke bridge yang berisi interface LAN.

# Membuat bridge (jika belum ada)
/interface bridge add name=bridge1
# Menambahkan bond1 ke bridge
/interface bridge port add bridge=bridge1 interface=bond1
# Menambahkan interface LAN (ether3) ke bridge
/interface bridge port add bridge=bridge1 interface=ether3

Jika Anda ingin memberikan IP pada bond langsung (misalnya untuk routing ke internet), lewati bridge dan assign IP pada bond.

Step 4 – Mengatur IP pada Bond (Contoh Routing)

Berikut contoh penetapan IP statis pada bond1 untuk menghubungkan ke upstream ISP.

/ip address add address=192.168.10.2/24 interface=bond1 comment="Uplink"
# Tambahkan default route
/ip route add dst-address=0.0.0.0/0 gateway=192.168.10.1

Ulangi di Router‑B dengan IP yang berbeda (misal 192.168.10.3) namun gateway tetap sama.

Step 5 – Memastikan LACP Negotiation

Setelah konfigurasi selesai, periksa status bond pada masing‑masing perangkat.

/interface bonding print detail where name=bond1

Anda akan melihat field running dan active untuk setiap slave. Contoh output yang diharapkan:

 name: bond1
 type: bonding
 master-port: ether1,ether2
 slaves: ether1 (running), ether2 (running)
 mode: 802.3ad
 LACP-rate: fast
 tx-hash: layer2+3

Jika satu atau kedua slave menunjukkan disabled, periksa koneksi fisik atau pastikan switch mengaktifkan LACP pada port yang bersesuaian.

Verifikasi

Berikut beberapa cara untuk menguji bahwa LACP berfungsi sebagaimana mestinya:

  • Ping berulang dari host di LAN ke alamat IP bond. Tidak ada packet loss bila link stabil.
  • Traceroute menunjukkan hop tunggal melalui bond.
  • Monitor traffic di /tool torch interface=bond1 – Anda harus melihat traffic menyebar di kedua port (ether1 & ether2) secara bersamaan.
  • Simulasi failure – Cabut kabel ether1 pada satu router, lalu periksa apakah traffic tetap mengalir melalui ether2 tanpa interupsi.

Troubleshooting

Gejala 1: Bond tidak membawa traffic, semua paket terhenti.

Penyebab: LACP tidak dapat bernegosiasi karena switch belum di‑configure sebagai LACP atau port berada dalam mode access VLAN yang berbeda.

Solusi: Pastikan switch port yang terhubung ke ether1 dan ether2 berada dalam trunk yang mengizinkan semua VLAN yang diperlukan, serta LACP di‑enable (biasanya “port‑channel” dengan mode LACP). Periksa show lacp neighbor pada switch untuk konfirmasi.

Gejala 2: Hanya satu port yang berstatus running, yang lain disabled.

Penyebab: Kabel rusak atau konfigurasi speed/duplex tidak cocok antar sisi.

Solusi: Ganti kabel, pastikan kedua interface diset ke auto-negotiation default, atau secara manual set ke kecepatan yang sama (mis. 1Gbps full‑duplex).

Gejala 3: LACPDU tidak terlihat pada switch (show lacp neighbor kosong).

Penyebab: LACP‑rate terlalu lambat atau firewall pada MikroTik memblokir LACP protokol (Ethernet type 0x8809).

Solusi: Set LACP-rate=fast pada bonding, dan pastikan tidak ada filter firewall yang menjatuhkan EtherType 0x8809. Tambahkan rule accept jika diperlukan.

Gejala 4: Bandwidth tidak meningkat setelah agregasi.

Penyebab: Hash policy tidak mendistribusikan traffic secara merata (mis. semua flow menuju satu MAC/IP).

Solusi: Ubah transmit-hash-policy menjadi layer3+4 atau layer2+3 tergantung pada pola trafik. Jika tetap tidak merata, pertimbangkan penggunaan L4 hash dengan parameter src-port, dst-port.

Gejala 5: Setelah upgrade RouterOS, bond menolak konfigurasi.

Penyebab: Pada versi tertentu (mis. 7.14) parameter mode=802.3ad masih didukung, namun nilai lacp-rate rename menjadi lacp-rate (tidak berubah) – namun ada perubahan default pada hash-mode.

Solusi: Telusuri changelog resmi MikroTik, perbarui script dengan parameter yang tepat, atau lakukan /system reset-configuration (backup dulu) dan buat ulang bond.

Best Practice

  • Gunakan mode active di kedua ujung. Ini memastikan negosiasi selalu terjadi meski salah satu side berada dalam status passive.
  • Monitor LACPDU. Gunakan tool sniffer atau switch CLI untuk memastikan paket beredar.
  • Backup konfigurasi. Simpan konfigurasi sebelum membuat perubahan dengan /system backup save name=pre‑lacp.backup.
  • Logging. Aktifkan logging level debug pada kategori interface, bonding jika mengalami masalah berulang.
  • Security. Karena LACPDU tidak terenkripsi, pastikan hanya switch yang dipercaya yang terhubung ke bond. Gunakan port‑security pada switch untuk membatasi MAC address.
  • Testing sebelum produksi. Lakukan simulasi failover pada lab, cabut satu port, verifikasi traffic tetap stabil sebelum menerapkannya di jaringan produksi.

FAQ

Apakah LACP dapat di‑mix dengan static link aggregation (mode on)?
Tidak disarankan. Kedua ujung harus menggunakan protokol yang sama; mencampur LACP dengan static dapat menyebabkan loop atau traffic loss.
Berapa banyak port yang bisa digabungkan menjadi satu bond?
RouterOS mendukung hingga 8‑12 anggota per bond, tergantung pada hardware chip NIC. Untuk router biasa, 4‑6 port sudah cukup.
Apakah LACP dapat berjalan pada interface wireless?
Secara teori tidak; wireless interface tidak mendukung LACPDU. Gunakan bridge atau VLAN untuk segmentasi, bukan LACP.
Bolehkah saya meng‑assign IP pada setiap slave selain bond?
Jangan. Semua konfigurasi IP, DHCP, dll harus berada pada bond, bukan pada slave, untuk menghindari konflik.
Bagaimana cara men‑diagnosa perangkat yang menolak LACP karena firmware lama?
Periksa versi firmware switch dan pastikan mendukung IEEE 802.3ad. Jika belum, update firmware atau gunakan static aggregation sebagai alternatif, dengan kesadaran risiko.

Kesimpulan

Link Aggregation dengan LACP pada MikroTik RouterOS 7.x memberikan peningkatan bandwidth yang signifikan sekaligus menambah resiliency jaringan. Dengan mengikuti langkah‑langkah di atas – menyiapkan interface, membuat bonding dengan mode 802.3ad, menambahkan ke bridge atau memberi IP, serta melakukan verifikasi dan troubleshooting – Anda akan memiliki koneksi uplink yang robust dan siap menahan kegagalan satu link tanpa mengganggu layanan. Selalu ingat untuk mencatat konfigurasi, mengaktifkan logging, serta menguji failover sebelum diterapkan di lingkungan produksi. Implementasi LACP yang tepat bukan hanya soal menambah kecepatan, melainkan juga tentang meningkatkan keandalan jaringan secara keseluruhan.

Referensi

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *